Selasa, 01 Juli 2014

Money politic



Moneypolitic
Sah? Atau Tidak? Entahlah.. yang jelas itu sudah lumrah dilakukan oleh para pemeran politik. Masayarakat sebenarnya menolak keras hal ini, tapi pada kondisi-kondisi tertentu mereka juga melakukannya. Hehehehe.... gak konsisten ya..
Uang.. sepertinya sudah seperti sumber kehidupan, sumber kebahagiaan, sumber kepuasan, sumber kemenangan, penawar kegundahan, obat kegalauan..hihihi..( lebay ). Padahal yang jelas, uang tuh obat kere..!!! hehe..( itu gue ). Kenyataannya memang seperti itu kan? Urusan apapun lancar dengan uang. Meski secara hakiki uang bukanlah segalanya.
Bukan main lho dampaknya.. Nyook kita ulas sekelumit “penderitaan” sebagai akibat dari moneypolitic yang terjadi di negara kita.
Secara tidak langsung terjadi diskriminasi antara si kaya, si kurang kaya, dan si tidak kaya alias si miskin(hihihi..gue misalnya...). Dibidang militer, ada salah satu teman, mendaftarkan diri menjadi polisi.. namun sayang dia harus gagal.. bukan karena kurang tinggi, bukan karena kurang potensi.. dia bilang “Gua gagal, gara-gara kurang kaya!!! kurang kasih pelumas ama atasannya. Jadi kalah saingan tuh ama para milioner”. Nah lho???? Pelumas disini kita faham artinya uang, yang melancarkan segala urusan, termasuk hal beginian. Dibidang pendidikan, ceritanya dibidang ini penuh dengan orang-orang berpendidikan dan bertugas untuk mendidik siswa agar menjadi “manusia”. Coba kita lihat, siswa pandai, bertalenta, ditolak oleh pihak sekolah impiannya dengan alasan “Maaf, kursi/kuota sudah penuh”. Tapi di akhir kalimatnya aneh “bisa saja kami paksakan 1 kursi untuk anak bapak, asal bapak ada pengertian”. Tuuuuhhhh “pengertian” Apa maksudnya? kalau bukan minta uang tambahan!!! Inikah sistem pendidikan yang mendidik????.
Nah pekan lalu kita menyaksikan bersama Pesta Demokrasi. Para caleg membagi-bagikan amplop berisi uang agar masyarakat memilihnya. Masyarakat juga kan punya pegangan..maksudnya pegang partai yang ngasih amplop paling gede. Hehehe.. tul gak? Tul kan? Tul donk.. sebagian masyarakat nyeleneh “Ah pokoknya yang paling gede isinya yang bakal kita pilih” Berarti moralitas dan kualitas sudah bukan menjadi prioritas. Tidak perlu disebutkan satu-persatu kasus disetiap bidang, saya rasa kita sudah tahu, banyak hal demikian sering terjadi dan hampir dianggap lumrah.
Apa tidak hawatir? Kondisi seperti ini nantinya jadi boomerang bagi kita sendiri? Betapa tidak? Negara kita dipimpin oleh orang yang kurang berkualitas dari segi ilmu pemerintahan atau ilmu kepemimpinannya. Negara kita diisi oleh pemuda-pemuda selenge’an, yang hanya duduk manis dan malas karena beranggapan “.. tenaaaang.. bokap gue punya duit”. Hayooo...Gimana nasib bangsa Indonesia???
Apa nanti akan tiba saatnya dimana orang-orang bermoral, orang-orang berpotensi, harus dimusiumkan? THE MESEUM OF QUALITY HUMAN “musium orang-orang berkualitas” (Gue pasti salah satu penghuni musiumnya..hehe)
Lantas solusinya??? Solusi yang paling efektif menurut saya adalah Pemimpin yang berevolusi.hehehe… Iya maksudnya, semua harus berawal dari pemimpinnya. Ini hasil survey lho.. Ketika seorang pemimpin berani dengan tegas menolak itu semua, maka insyaallah deh bawahan mah ngikut teruussss. Yang Uptodate sekarang ni lagi pemilihan Capres Cawapres kan??? Nah…yuk lah kita milih, benar-benar gunakan hak suara kita untuk menentukan nasib bangsa. Ini kan bangsa kita, bukan bangsa si Capres atau si Cawapres.. Bismillahirrahmanirrahiim…BLOSS!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar